Cinta Di Penghujung Toga
Dia yang Bersamaku di Penghujung Toga
Ada yang bilang, cinta itu datang karena sering bertemu. Ada juga yang bilang, cinta hadir karena terbiasa bersama. Tapi kalau ditanya bagaimana kisahku dimulai, jawabannya sedikit berbeda.
Kami sudah saling mengenal sejak lama. Bahkan sejak semester satu.
Lucunya, selama bertahun-tahun itu tidak pernah terlintas sedikit pun di kepalaku bahwa suatu hari nanti, orang yang hanya kusebut sebagai "kakak tingkat" akan menjadi seseorang yang berjalan bersamaku menuju penghujung masa kuliah.
Kalau saja waktu bisa diputar ulang, mungkin aku akan tertawa melihat versi diriku di semester satu. Anak baru yang masih bingung mencari ruang untuk bertumbuh, masih sibuk mengenal kampus, mengenal teman-teman baru, dan tentu saja... mengenal berbagai organisasi mahasiswa.
Salah satunya PMII.
Sebuah Nomor Baru di WhatsApp
Aku masih ingat betul suatu hari.
Ada sebuah nomor baru masuk ke WhatsApp-ku.
Saat itu WhatsApp belum seramai sekarang. Setiap nomor asing selalu mengundang rasa penasaran sekaligus kewaspadaan.
Aku tidak langsung membalas.
Sebagai mahasiswa baru yang masih hijau, aku malah bertanya dulu kepada beberapa teman seangkatanku.
"Eh, ini nomor siapa ya?"
Mereka cuma tertawa.
"Itu kakak PMII."
"Oh..."
Ternyata memang sedang musim-musim kaderisasi organisasi ekstra kampus.
Akhirnya aku memberanikan diri membalas.
"Kakak yang dari PMII ya?"
Lalu...
Tidak ada balasan.
Iya.
Tidak dibalas sama sekali.
Kalau dipikir-pikir sekarang, lucu juga. Padahal waktu itu aku sudah menyusun berbagai kemungkinan di kepala. Jangan-jangan salah kirim? Jangan-jangan sinyalnya jelek? Jangan-jangan HP-nya rusak?
Ternyata memang tidak dibalas.
Begitu saja.
Dan siapa sangka, percakapan yang berakhir tanpa jawaban itu justru menjadi bagian paling lucu ketika dikenang bertahun-tahun kemudian.
Alasan yang Sangat Sederhana
Banyak orang bergabung ke organisasi karena idealisme.
Ada yang ingin belajar kepemimpinan.
Ada yang ingin memperluas relasi.
Ada yang ingin memperjuangkan perubahan.
Kalau aku?
Alasanku sederhana sekali.
Karena PMII adalah organisasi yang paling dominan di kampus.
Sesederhana itu.
Tidak ada cerita heroik.
Tidak ada panggilan jiwa.
Tidak ada mimpi besar ingin menjadi aktivis.
Aku hanya berpikir, "Ya sudah, ikut saja."
Lalu aku mengikuti MAPABA.
Dan dari situlah semuanya dimulai.
Empat Tahun yang Terasa Biasa Saja
Kalau kalian berharap setelah MAPABA langsung muncul kisah cinta ala drama Korea, maaf.
Tidak.
Selama bertahun-tahun hubungan kami biasa saja.
Benar-benar biasa.
Kami saling mengenal.
Sesekali bertegur sapa.
Bertemu ketika ada kegiatan.
Bekerja sama kalau memang dibutuhkan.
Tidak lebih.
Dia tetap kakak tingkat.
Aku tetap adik tingkat.
Hubungan kami hanya sebatas kenalan kampus yang kebetulan sama-sama aktif di PMII.
Tidak ada kode.
Tidak ada perhatian khusus.
Tidak ada chat sampai tengah malam.
Tidak ada saling menunggu selesai kelas.
Bahkan mungkin kalau saat itu ada yang bilang bahwa kami akan menjadi pasangan, aku sendiri akan ikut tertawa.
Karena rasanya mustahil.
Kami menjalani kehidupan masing-masing.
Bertemu seperlunya.
Lalu kembali sibuk dengan dunia sendiri.
Empat tahun berlalu begitu saja.
Semester Akhir Mengubah Banyak Hal
Orang bilang semester akhir adalah fase paling melelahkan.
Aku setuju.
Di fase ini teman-teman mulai berjalan dengan ritmenya masing-masing.
Ada yang sudah bekerja.
Ada yang sibuk magang.
Ada yang mengejar wisuda.
Ada yang masih berkutat dengan revisi.
Aku termasuk yang sedang berjibaku dengan skripsi.
Begitu juga dia.
Kebetulan sekali.
Di saat sebagian besar kader PMII berangkat mengikuti Kongres PMII di Palembang, kami justru tidak ikut.
Bukan karena tidak ingin.
Melainkan karena sama-sama punya alasan.
Kalau dipikir sekarang, mungkin skripsi memang menyebalkan.
Tapi siapa sangka, justru skripsilah yang mempertemukan kami dalam cara yang berbeda.
Alasan "Skripsian"
Awalnya sederhana.
Kami sering bertemu karena sama-sama mengurus skripsi.
Kadang di kampus.
Kadang di perpustakaan.
Kadang sekadar berdiskusi.
Kadang hanya sama-sama mengeluh.
Kalau ada yang bertanya kenapa sering bersama, jawabannya selalu sama.
"Skripsian."
Padahal lama-kelamaan alasan itu mulai terasa lucu.
Karena yang dikerjakan bukan cuma skripsi.
Kami mulai banyak berbincang.
Tentang masa depan.
Tentang keluarga.
Tentang cita-cita.
Tentang hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah kami obrolkan.
Dari situ aku mulai sadar.
Ternyata selama ini aku hanya mengenalnya sebagai kakak tingkat.
Padahal di balik itu, ada pribadi yang jauh lebih menarik daripada yang selama ini kulihat.
Ternyata Jatuh Cinta Itu Pelan-Pelan
Tidak ada momen dramatis.
Tidak ada hujan.
Tidak ada musik latar.
Tidak ada slow motion.
Aku hanya merasa nyaman.
Lalu rasa nyaman itu berubah menjadi rindu.
Rindu berubah menjadi perhatian.
Perhatian berubah menjadi keberanian.
Dan keberanian berubah menjadi sebuah pengakuan.
Aku menyatakan perasaanku.
Lalu...
Ditolak.
Iya.
Ditolak.
Kalau hanya sekali mungkin masih bisa dibilang kurang beruntung.
Masalahnya bukan sekali.
Butuh waktu hampir tiga bulan.
Tiga bulan.
Sembilan puluh hari lebih.
Kalau dihitung-hitung mungkin sudah cukup untuk menyelesaikan beberapa bab skripsi.
Aku mencoba meyakinkannya.
Bukan dengan memaksa.
Bukan dengan drama.
Hanya menunjukkan bahwa perasaanku memang sungguh.
Jujur saja, ada saat-saat ketika aku hampir menyerah.
Aku berpikir mungkin memang bukan jalannya.
Mungkin cukup sampai di sini.
Tapi entah kenapa, hati ini selalu mengatakan untuk mencoba sekali lagi.
Penolakan Tidak Selalu Berarti Akhir
Banyak orang menganggap ditolak adalah tanda untuk berhenti.
Mungkin memang benar.
Tetapi ada juga penolakan yang sebenarnya hanya membutuhkan waktu.
Karena setiap orang punya prosesnya sendiri.
Ada yang mudah percaya.
Ada yang butuh diyakinkan.
Ada yang pernah terluka.
Ada yang hanya sedang berhati-hati.
Aku memilih menghargai proses itu.
Tidak semua perjuangan harus menang hari ini.
Kadang yang dibutuhkan hanya kesabaran.
Dan akhirnya...
Hari itu datang.
Dia menerima perasaanku.
Kalau boleh jujur, rasanya jauh lebih bahagia daripada saat dosen pembimbing berkata, "Bab ini sudah ACC."
Bahkan Setelah Jadian Pun Tidak Langsung Mulus
Banyak orang mengira setelah resmi berpacaran semua masalah selesai.
Nyatanya tidak.
Hubungan tetaplah hubungan.
Tetap ada salah paham.
Tetap ada perbedaan.
Tetap ada ego.
Pernah suatu waktu dia meminta hubungan kami diakhiri.
Kalimat itu sederhana.
Tetapi dampaknya luar biasa.
Aku tentu sedih.
Siapa yang tidak?
Namun kali ini aku memilih bertahan.
Aku tidak ingin menyerah secepat itu.
Aku percaya bahwa hubungan bukan tentang siapa yang paling sempurna.
Melainkan siapa yang memilih tetap tinggal ketika keadaan tidak sedang baik-baik saja.
Dan syukurlah...
Kami masih di sini.
Dia yang Menemaniku di Penghujung Toga
Kalau dipikir-pikir lagi, hidup memang lucu.
Empat tahun kami hanya saling mengenal.
Empat tahun pula kami tidak pernah membayangkan akan sejauh ini.
Yang dulu hanya sebuah nama di daftar kakak tingkat.
Yang dulu hanya nomor WhatsApp yang bahkan tidak membalas pesanku.
Yang dulu hanya teman satu organisasi.
Kini justru menjadi orang yang menemani langkah-langkah terakhir menuju garis akhir perkuliahan.
Kami sama-sama berjuang menyelesaikan skripsi.
Sama-sama menunggu revisi.
Sama-sama menghadapi dosen pembimbing.
Sama-sama menghitung berapa lembar lagi yang harus dicetak.
Sama-sama menunggu hari ketika toga akhirnya dikenakan.
Mungkin inilah alasan mengapa aku menyebutnya sebagai dia yang bersamaku di penghujung toga.
Karena ia tidak hadir di awal cerita sebagai tokoh utama.
Ia muncul perlahan.
Tumbuh perlahan.
Dan akhirnya menjadi bagian yang paling berkesan dari perjalanan panjang itu.
Tentang Takdir yang Tidak Pernah Terburu-Buru
Dulu aku sempat bertanya-tanya mengapa selama empat tahun tidak pernah ada cerita apa-apa di antara kami.
Sekarang aku mengerti.
Barangkali memang belum waktunya.
Takdir tidak pernah terburu-buru.
Ia tahu kapan harus mempertemukan.
Ia tahu kapan harus mendekatkan.
Ia tahu kapan harus membuat dua orang saling melihat dengan cara yang berbeda.
Kalau saja dulu kami langsung dekat sejak semester satu, belum tentu akhirnya akan sama.
Mungkin kami belum cukup dewasa.
Mungkin masih sibuk dengan ego masing-masing.
Mungkin belum siap.
Karena itu, aku percaya bahwa setiap pertemuan memiliki waktunya sendiri.
Terima Kasih, PMII
Aku sering bercanda kepada teman-teman.
"Kalau dulu tidak ikut MAPABA, mungkin ceritanya beda."
Tentu saja tidak ada yang tahu bagaimana hidup berjalan jika memilih jalan lain.
Namun satu hal yang pasti, PMII bukan hanya memberiku ruang untuk belajar organisasi.
Ia juga mempertemukanku dengan banyak orang baik.
Mengajariku tentang proses.
Tentang perjuangan.
Tentang persahabatan.
Dan tanpa kusadari, mempertemukanku dengan seseorang yang kini menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupku.
Organisasi memang tidak selalu melahirkan aktivis.
Kadang organisasi juga mempertemukan dua orang yang sebelumnya hanya saling mengenal nama.
Untukmu, yang Bersamaku di Penghujung Toga
Kalau suatu hari nanti kamu membaca tulisan ini, mungkin kamu akan tertawa.
Mengingat pesan WhatsApp yang tidak pernah kamu balas.
Mengingat bagaimana aku berkali-kali mencoba meyakinkanmu.
Mengingat tiga bulan penuh penolakan.
Mengingat saat kamu pernah ingin menyerah.
Dan mungkin kita akan sama-sama tersenyum karena semua itu kini hanya menjadi cerita.
Terima kasih sudah memilih bertahan.
Terima kasih sudah hadir pada waktu yang tepat.
Terima kasih karena tanpa sadar telah membuat perjalanan panjang menuju wisuda menjadi jauh lebih bermakna.
Karena pada akhirnya, yang paling kuingat dari masa kuliah bukan hanya tugas, ujian, IPK, atau skripsi.
Melainkan seseorang yang berjalan bersamaku ketika toga itu semakin dekat untuk dikenakan.
Dan jika kelak anak-anak kami bertanya, "Ayah sama Ibu kenal di mana?"
Mungkin aku akan tersenyum sambil berkata,
"Awalnya? Dia itu kakak tingkat yang bahkan pernah mengabaikan chat Ayah."
Lalu kami akan tertawa bersama.
Sebab ternyata, kisah cinta yang paling indah tidak selalu dimulai dengan percakapan panjang atau pertemuan yang dramatis.
Kadang semuanya bermula dari sebuah pesan sederhana yang tidak pernah dibalas, sebuah organisasi yang awalnya kuikuti tanpa alasan istimewa, dan dua mahasiswa tingkat akhir yang sama-sama sibuk mengejar ACC skripsi.
Siapa sangka, di balik tumpukan revisi, lembar demi lembar skripsi, dan perjalanan panjang menuju wisuda, aku justru menemukan hadiah terindah dari masa kuliah.
Bukan sekadar gelar.
Bukan hanya toga.
Melainkan seseorang yang memilih berjalan di sisiku hingga penghujungnya.
Dan bagiku, itulah definisi paling sederhana dari cinta di masa perkuliahan.
Bukan tentang siapa yang datang paling awal.
Tetapi tentang siapa yang tetap tinggal sampai garis akhir.
